“Poto…poto”..

23 02 2009

Dulu, ketika masih kecil, penulis sangat ingat sekali, pernah ada juru foto keliling  namanya wak War (begitu panggilannya, dan alhamdulillah skarang masih hidup) yang sering keliling kampung penulis. Begitu dengar namanya, atau teriakan khasnya “poto…poto”…penulis langsung lari tunggang langgang ga karuan sampe sembunyi di rumah tetangga penulis. 

Gtau apa yang menyebabkan penulis lari ketakutan seperti itu. Bisa jadi karena tampang si juru foto yang memang kayak penjahat di tivi2 (sumpah kayak musuhnya rhoma irama di film2, brewokan, pake topi baret, celana klowor..he3x). Bisa jadi juga karena blitz kamera yang membuat penulis kaget. Lupa persisnya, kenapa…

Nah, sekarang berubah 180 derajat. Penulis jadi pecinta foto. Dan adik penulis, jadi seorang narsis foto…. Masak baru bangun tidur langsung pingin foto2.. :-). Usia penulis waktu masih takut sama juru foto ya kira2 seumuran adik penulis sekarang, kurang kecil sedikit.

Yah…umur segitu memang anak kecil lagi lucu2nya, polos, dan apa adanya. Difoto dari sisi manapun masih kelihatan bagus :-). Lihat foto dibawah ini, nyantai n enjoy banget difoto. Padahal seusia itu, penulis lari ketakutan di kejar sang juru foto keliling… 🙂

lutfi

my litle brother, foto kemarin

lutfi2

waktu masih lebih kecil dari foto atas

lutfi3

twins? 

Advertisements




Low speed Canon A580

22 02 2009

Pulang kampung, mudik ke pasuruan. Waktu nyebrang jembatan keputran, nyempet2in coba motret2 jalanan surabaya yang waktu itu setengah rintik2. Kbetulan bawa kamera poket Canon A580. Setting ke mode manual, set shutter speed 2 second, pegang kamera erat2 (karena memang ga pakai tripod). Akhirnya jadilah gambar ini :

satu

Diatas jembatan keputran

Ga tau, knapa foto low speed jd bgitu menarik, mungkin karena low speed menyisakan kilat2 cahaya dari lampu2 kendaraan. Sinar lampu kendaraan jadi bias jadi seperti jalur cahaya merah, kuning, orange, dan putih. Cahaya lampupun jadi kelihatan lebih terang.

Gambar dibawah diambil di depan masjid Al-Ikhlas dekat rumah penulis. Kelihatan bagus, hanya lampu diatas pintu masjid klihatan terlalu terang, penulis melihat beberapa hasil fotografi malam, cahaya lampu yang diam kelihatan seperti bintang, entah pakai filter apa…mungkin teman2 ada yg tau? lantas meminjami saya…he3x,

tujuh

Di depan masjid

enam

Sama, di jalan, deket rumah 🙂

Gambar dibawah diambil di depan pabrik Oli, sama bagusnya, jernih, hanya saja masalahnya sama dengan di atas, lampu pabrik terlalu terang dan tidak berbentuk bintang, penasaran, pake apa sih orang2..

tiga

di depan pabrik oli

lima

Didepan pabrik oli juga





Pelangi di Matamu

14 02 2009

Pagi2, denger Inbox di SCTV, ternyata ada lagu jadul. Judulnya sesuai posting ini “Pelangi di Matamu” dari jamrud. Jadi ingat waktu jaman pilihan presiden dulu yang sering di bawakan waktu kampanye oleh SBY. 

Setuju klu lagu ini bagus banget 🙂 

30 menit kita disini tanpa suara
dan aku resah harus menunggu lama ..kata darimu
mungkin butuh kursus merangkai kata untuk bicara
dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini

jam dinding pun tertawa, karna kuhanya diam dan membisu
ingin kumaki diriku sendiri, yang tak berkutik di depanmu
ada yang lain disenyummu
yang membuat lidahku gugup tak bergerak
ada pelangi di bola matamu dan memaksa diri tuk bilang
“aku sayang padamu” (2x)





Terinspirasi dari buku “Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dolar”

9 02 2009

booksSabtu, jalan2 ke togamas diponegoro. Sesuatu yang hampir pasti kulakukan klu habis gajian. Jalan2 cari buku baru.  Mengapa sering ke togamas? ya karena Toko buku yang satu ini memang sering ngasih diskon, tempatnya nyaman, dan hampir tiap bulan mesti ada SMS yang masuk ke inboxku, klu2 ada info diskon dsana. 

Cari2 buku, lama puter2, sampai akhirnya ketemu buku “Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dolar”. Buku ini sangat2 menarik. Lama sebelum ktemu buku ini, saya pernah baca artikel di jawapos, yang ternyata memang artikel tersebut membahas kisah/pengalaman penulis buku ini. Saya search di google, akhirnya ketemu artikel tersebut (http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=14141).  Penulisnya adalah Marina Silvia K. lulusan Teknik Industri ITB angkatan 2001.

Jalur Pertemanan Internet 

Bagaimana caranya bisa keliling eropa hanya dengan modal USD 1.000?. Marina menggunakan  Internet. Marina menjalin jejaring pertemanan melalui http://www.hospitalityclub.org dan http://www.couchsurfing.com. Kedua situs tersebut adalah tempat yang menghubungkan sesama pelancong di seluruh dunia. Para anggotanya siap menjadi tamu sekaligus tuan rumah (host) dari rekan sesama pelancong dari mana pun.

Untuk mengetahui sosok sang calon tuan rumah, Marina mengandalkan profil mereka dan testimoni sesama memberyang juga dipajang dalam situs tersebut. “Rely on (bersandar) hanya pada hal itu. Sebelum datang juga tidak pernah menelepon. Hanya kirim email. Tapi, (setelah bertemu darat) semuanya cocok banget. Mungkin namanya juga bule,” kata penyuka Bono (penulis hampir semua lagu U2) hingga sufisme Jalaluddin Rumi itu. 

Meski Eropa bukan benua baru bagi Marina yang pernah ikut program homestay di Inggris saat SMP, modal keberanian juga mutlak dimiliki. Dengan segala persiapan itulah, Marina sukses menapakkan kaki di negara-negara Eropa yang masuk wilayah schengen (beranggota 15 negara) dan non-schengen. “Saya masuk ke Eropa dengan Qantas dari Singapura menuju Frankurt, Jerman,” katanya.

Untuk menghemat biaya fiskal, dia menyeberang ke Singapura lewat laut via Batam. “Jadi, saya terbang dari Jakarta ke Batam.”

Selama enam bulan itu, total 45 kota di 13 negara yang sukses dilintasinya. Mulai Jerman, Rusia, Finlandia, Swedia, Norwegia, Denmark, Belgia, Luksemburg, dan Prancis. Lalu dilanjutkan Spanyol, Italia, Austria, dan Ceko. Wow!!!

Pergi sejauh mungkin dengan duit seminim mungkin. Mmm…katanya dalam buku, Efisiensi terbesar didapat tidak dengan “mengencangkan pinggang sendiri”, tapi dengan reach out kepada orang lain. 

Buku ini diwarnai dengan banyak tips n trik traveling, kisah2 perjalanan yang sangat menginspirasi, ide dan pemikiran, tentang kebebasan, unity in diversity. utamanya banyak foto2 yang menarik (meski fotonya grayscale,bukan warna).

Setelah baca buku ini, kita melihat banyak sekali hal2 yang tidak/belum kita ketahui diluar sana. Dan ternyata sisi positif dari traveling, kita akan menemukan banyak sekali orang baik diluar sana.  “Kepercayaan bakal mengeluarkan yang terbaik dari diri manusia”.

Akhirnya,  dapat disimpulkan, traveling is about finding ourselves. Melihat kemana kita akan menuju dan mencoba menerima perbedaan dan hasil apapun yang kita hadapi nantinya. Buku yang sangat menginspirasi.

Jadi pingin traveling nih. Kemana ya? mungkin suatu saat saya bisa pergi juga ke eropa, ke selandia baru, dan ke arab, naik haji. He3x.