OpenSource

19 06 2007

Open Source adalah sistem pengembangan yang tidak dikoordinasi oleh suatu orang/lembaga pusat, tetapi oleh para pelaku yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source-code) yang tersebar dan tersedia bebas (biasanya menggunakan fasilitas komunikasi intenet)(wikipedia). Pola pengembangan ini mengambil model ala bazaar, sehingga pola Open Source ini memiliki ciri bagi komunitasnya yaitu adanya dorongan yang bersumber dari budaya memberi, yang artinya ketika suatu komunitas menggunakan sebuah program Open Source dan telah menerima sebuah manfaat kemudian akan termotivasi untuk menimbulkan sebuah pertanyaan apa yang bisa pengguna berikan balik kepada orang banyak.

Pola Open Source lahir karena kebebasan berkarya, tanpa intervensi berpikir dan mengungkapkan apa yang diinginkan dengan menggunakan pengetahuan dan produk yang cocok. Kebebasan menjadi pertimbangan utama ketika dilepas ke publik. Komunitas yang lain mendapat kebebasan untuk belajar, mengutak-ngatik, merevisi ulang, membenarkan ataupun bahkan menyalahkan, tetapi kebebasan ini juga datang bersama dengan tanggung jawab, bukan bebas tanpa tanggung jawab.

Pada intinya konsep sumber terbuka adalah membuka “kode sumber” dari sebuah perangkat lunak. Konsep ini terasa aneh pada awalnya dikarenakan kode sumber merupakan kunci dari sebuah perangkat lunak. Dengan diketahui logika yang ada di kode sumber, maka orang lain semestinya dapat membuat perangkat lunak yang sama fungsinya.

Dengan konsep kebebasan ini, setiap orang bebas untuk menjual perangkat lunak bebas, menggunakannya secara komersial dan mengambil untung dari distribusi dan modifikasi kode sumbernya. Walaupun demikian setiap orang yang memiliki salinan dari sebuah perangkat lunak bebas dapat pula menyebarluaskan perangkat lunak bebas tersebut secara gratis. Model bisnis dari perangkat lunak bebas biasanya terletak pada nilai tambah seperti dukungan, pelatihan, kustomisasi, integrasi atau sertifikasi.

Menurut Richard Stallman dan Free software Foundation, suatu perangkat lunak dikatakan perangkat lunak bebas jika pengguna yang menerima salinan perangkat lunak tersebut memiliki empat kebebasan yaitu:

  • Kebebasan 0: Bebas untuk menjalankan perangkat lunak untuk tujuan apapun.
  • Kebebasan 1: Bebas untuk mempelajari dan mengubah perangkat lunak.
  • Kebebasan 2: Bebas untuk menyalin perangkat lunak, sehingga Anda dapat membantu tetangga Anda.
  • Kebebasan 3: Bebas untuk memajukan perangkat lunak, dan merilisnya ke publik, sehingga komunitas dapat menikmati keuntungan tersebut.

Kebebasan 1 dan 3 membutuhkan akses atas kode sumber, karena tidak mungkin untuk mempelajari dan mengubah perangkat lunak tanpa kode sumbernya.

Proyek GNU diluncurkan pada tahun 1984 untuk mengembangkan – sebuah sistem operasi lengkap serupa Unix – yang berbasis free software: yaitu sistem GNU. Varian dari sistem operasi GNU, yang menggunakan kernel Linux, dewasa ini telah digunakan secara meluas. Walaupun sistem ini sering dirujuk sebagai “Linux”, seharusnya lebih tepat jika disebut sistem GNU/Linux.

babygnutux-med.png

badvista-trash.png

Mr.President of rizalrepublic said : mungkin gambar diatas terlalu merendahkan vista yah…(^_^) sory klo u make vista. tapi kenyataanya memang begitu. vista memerlukan spek hardware yang tinggi. dengan harga yang begitu mahal. Sedang disisi lain ada linux sebagai sistem operasi bebas yang free dan stabil. Pada vista kita menemukan aero yang begitu dibanggakan oleh Micr**oft. Pada linux kita akan menemukan 3DDesktop(gcompriz),metisse,dan beryl. Pertama aku ngliat 3D effect di linux, aku ngliat seakan2 aero sebagai teknologi kemarin2. klo masih penasaran liat aja video di youtube.com dan ketikkan keyword seperti “beryl linux” dan liat sendiri seperti apa…

Banyak orang yang menganggap linux itu sulit. menurutku sulit tidaknya memang tergantung dari kebiasaan.Kita sudah terbiasa membeli bajakan dan menggunakannya sejak tk,membeli bajakan sama murahnya dengan membeli cd linux,tentu orang banyak yang beli bajakan. Sedang penegakan HAKI cuman jalan ditempat. Indonesia adalah negara pembajak terbesar ke3 didunia. So,perlu pembiasaan2 dan pengenalan dini tentang penggunaan opensource dan pentingnya penghargaan intelektual. Hal itu kutemukan disurabaya, dimana di suatu SD sudah diajarkan linux. Salah satu ujian di SD tersebut ialah memakai gimp(tool editing gambar seperti fotoshop) dan semua komputer di SD tersebut menggunakan edubuntu(salah satu varian linux untuk edukasi).

Ada kalimat menarik yang pernah dikatakan Mao Zedong(pemimpin komunis tertinggi cina). dia berkata bahwa tidak penting seekor kucing berbulu merah ato putih selama ia masih bisa menangkap seekor tikus. kalau kita analogikan pada perangkat lunak di indonesia, tidak penting perangkat lunak opensource atau closedsource selama ia bisa bermanfaat bagi perkembangan teknologi di indonesia dan mendorong kreatifitas anak bangsa. ini lah sikap “pertengahan” yang kuambil. jadi, entah micr**oft atau linux, selama ia bisa bermanfaat, ya monggo…

Pada kenyataanya sistem open source-lah yang membuka banyak peluang bagi anak bangsa untuk ikut berkarya dan membuat operating sistem sendiri dengan terbukanya source code dari software.Setiap orang bisa memodifikasi perangkat lunak tersebut.Disini kita tidak hanya berdiri disisi pengguna doang. Kita menemukan sistem operasi putra2 bangsa seperti blankon,kulax,ligos,igos,winbi,bijax,trustix merdeka,dan lain2. Hal yang tidak kita temukan di sistem closedsource.Suatu sistem transfer teknologi yang luar biasa.bukan begitu…

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: